Sura Dira Jayaningrat, Lebur Dening Pangastuti

Ngluruk Tanpa Bala, Menang Tanpa Ngasorake, Sekti Tanpa Aji-Aji, Sugih Tanpa Bandha

Berjuang tanpa perlu membawa massa, Menang tanpa merendahkan atau mempermalukan. Berwibawa tanpa mengandalkan kekuasaan, kekuatan, kekayaan atau keturunan, Kaya tanpa didasari kebendaan.

  • NU ONLINE
  • MENGAPA, WAKIL RAKYAT DIPEREBUTKAN ? I amruloh saja




    Bukankah manusia yang diciptakan di Bumi ini adalah sebagai Khalifah ? khalifah adalah pemimpin. Adakah yang tidak merasa bahwa dirinya adalah seorang pemimpin ? pastilah setiap orang merasa begitu.

    Tidaklah memerlukan alasan banyak untuk memberikan suatu konsep pemimpin. Pemimpin disini dijelaskan sesuatu yang bebas untuk menguasai hak atas pribadi seseorang tau kelompok manusia. Arti dari kuasa seseorang untuk meguasai ( dalam arti mengendalikan) diri adalah paling tidak, setiap manusia mempunyai kendali untuk bebas dan merdeka, tanpa ada pengaruh yang menjadikannya bimbang atas kemerdekaannya, inilah pemimpin bagi dirinya. Sedangkan bebas menguasai (mengendalikan) suatu kelompok orang adalah suatu trust (kepercayaan dengan cara yakin) orang lain kepada diri seseorang, yang menyerahkan kemerdekaannya (tanpa melampaui kebebasan individu) untuk orang yang dirasa mampu dan akan menciptakan kesejahteraan sosial, maka konsep inilah yang diartikan dengan pemimpin secara umum.

    Ada alasan mengapa banyak rang yang ingin menjadi pemimpin sosial, pemimpin di negaranya, di propinsi hingga di Desanya.

    Pertama, alasan untuk merubah suatu kebiasaan dan budaya yang keliru, untuk membenarkan harus masuk kedalam sistem, ikut dalam perpolitikan, mencalonkan menjadi pemimpin. Nah, konsep pertama ini sangat ideal, maka tak sedikit para orang yang merasa dirinya mamapu, segera memantaskan diri untuk maju menjadi pemimpin. Maka, ketika menjadi pemimpin, janji janji politiknya untuk merubah kearah kemajuan, kebaikan, akan mudah untuk dilaksanakan, tanpa haus terkendala birokrasi yng terbelit belit.

    Kedua, alasan untuk mendapatkan penghargaan diri, pernyataan hormat orang lain kepada dirinya. Yang kedua ini sudah menyimpang dari idealisme kepemimpinan. Bukan rasionalitas sosial yang dipakai namun lebih pada keegoisan pribadi dalam mendapatkan hasrat berkuasa, dipuja.

    Di negara kita, untuk menjadi pemimpin sosial harus melalui suatu perjuangan yang panjang, tidak gampang, dan penuh dengan pengorbanan.untuk mendapatkan suatu pemimpin, sebenarnya ada dua dasar, yatu pemimpin itu dilahirkan, atau diciptakan. Pemimpin yang dilairkan, pada hakikatnya sudah mempunyai darah seorang pemimpin, keturunan raja dan sebagainya, maka akan secara otomatis akan menjadi pemimpin didaerahnya. Untuk kategori pemimpin yang diciptakan, istilahnya pemimpin ini tidak mempunyai keturunan raja atau sebutan lainnya, melainkan dia di persiapkan dengan cara dipromosikan karena mempunyai kemampuan untuk memimpin yang baik.

    Nah, ada suatu kesalahan yang turut menyertai proses didapatkannya pemimpin, yaitu orang yang tidak mempunyai kemampuan untuk mempimpin, karena mempunyai hasrat untuk berkuasa, maka orang yang tidak mampu ini di atur sedemikian rupa, diwacanakan untuk menjadi seorang pemimpin terbaik, akhirnya setelah mampu menarik hati rakyat, dia melupakan janji janji manisnya, malah memperkaya diri, memperkaya sekelilingnya, dan melupakan masyarakat yang seharusnya dibantu, diperhatikan. Makanya ada banyak pemimpin yang korupsi.

    Sekarang mari kita ngomongin masalah pilkada, Pilihan umum di Indonesia.
    Dalam menuju kursi kepala daerah 2018 dan Presiden 2019, ada banyak dan mendadak tokoh bermunculan. Ada tokoh lama, ada tokoh yang sebenarnya sudah lama tapi baru muncul, ada yang sebenarnya bukan tokoh tapi mengaku dirinya tokoh. Tokoh disini diartikan bahwa dia adalah calon pemimpin didaerahnya, atau di Negara Indonesia.

    Dari berbagai latar kehidupn dan pendidikan, tokoh tokoh yang bermunculan itu sedang ramainya memasang gambar untuk mempromosikan wajahnya agar terkenal, moncer.

    Waow, begitu semangatnya mereka yang ingin menjadi wakil rakyat. sungguh itu merupakan niatan yang begitu arif bijakasana. Ada beberapa hal mengapa mereka rela mengelurakan uang yang tak sedikit hanya untuk satu kursi jabatan wakil rakyat ? berikut sekedar asumsi ulasannya:

    1. Menurut teori hierarki kebutuhan Maslow, pada tingkat tertentu, seseorang memerluan penghargaan atas capaian dirinya. kebutuhan Penghargaan atas diri ini dicapai setelah orang tersebut melewati tahapan berikut yaitu; sukses menapaki kebutuhan fisiologis, tuntas dalam kebutuhan mendapat rasa aman, dan mendapatkan kasih sayang. Nah, para calon yang sedang giat berpromosi, bisa jadi dikategorikan sebagai orang yang ingin mendapatkan penghargaan diri. Menjadi seorang pejabat publik adalah satu impian besar untuk selalu dekat dengan masyarakat, membela masyarakat, dan membantu mereka yang membutuhkan bantuan (masyarakat mustad'afin). dengan dibantunya masyarakat, ada harapan besar yaitu, upah, penghargaan, ucapan selamat, rasa terimakasih, rasa balas budi dan rasa penaklukan dan ketertundukan terhadap wakil rakyat tersebut.nah, disitulah rasa menjadi orang besar akan muncul.

    2. Sarana mendapatkan sesuatu yang lebih, setidaknya incaran menjadi menteri, direktur PT apa begitu, mendapatkan proyek, tetap tercapai.

    Sebenarnya, pola pola promosi sah sah saja dilakukan, oleh siapapun. Namun yang perlu diketahui bahwa, kalau merasa tidak mampu, jangan memaksakan kehendak. kalau tidak punya rasa niat ketulusan menjadi wakil rakyat, hentikan. katakan saja saat menjelang pilpres 2019. ada banyak calon. sebenarnya, mereka yang promosi, mempunyai suara yang lumayan untuk sekedar "ndompleng" (gabung jadi satu) kesalah satu calon terkuat. saat ini gonjang-ganjingnya, bakal yang terjadi adalah hanya ada dua Capres terkuat. yang lain hanya sekedar dompleng. nah, posisi posisi dompleng inilah yang bisa jadi banyak dicari, sebab, untuk bersatu, bersinergi dalam hal koalisi, ada pemufakatan yang berujung pada kerjasama. disitulah kursi kursi menjadi menteri, kepala bidang, direktur PT, dan apapun itu ditawarkan, bisa jadi timbul perekrutan tanpa ada seleksi kemampuan.

    Buat apa susah susah menjadi wakil rakyat yang pada ujungnya menipu ?

    Labels: politik

    Thanks for reading MENGAPA, WAKIL RAKYAT DIPEREBUTKAN ? I amruloh saja. Please share...!

    0 Comment for "MENGAPA, WAKIL RAKYAT DIPEREBUTKAN ? I amruloh saja"

    Back To Top